Nilai2 dan Berkurban

Senin, Desember 08, 2008

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuhu

kata kita:
Hidup adalah perjuangan.
Dalam perjuangan ada impian.
Untuk impian selalu dibutuhkan ketabahan dan kesabaran.
Dalam kesabaran penuh dengan pengorbanan...
Dan sering kali kita harus
mengorbankan apa yang sangat kita impikan.
mengorbankan apa yang kita cintai...
mengorbankan segala yang berharga...

Itulah pengorbanan,
meski identik dengan kepahitan
Selalu ada hikmah yang tersimpan.
Nilai2 Mulia itu takkan ada habisnya...
Jika semua hanya karena ALLAH Ta'ala...


1429, Dzulhijjah... mengisyaratkan bulan akhir dari kalender hijriah edisi 1429 H. Pada bulan inilah dilaksanakan ibadah yang berlangsung selama beribu-ribu tahun sejak zaman nabi Ibrahim as. Ibadah haji bagi saudara kita yang diberikian kesempatan melaksanakannya. tapi bukan itu yang ada dalam benak asaya skrg ini, karena "belum pernah berhaji"

Berkurban... entah berapa ribu hewan kurban yang disembelih tiap tahunnya. Entah berapa yang telah melaksanakannya. hitung-hitungan dari lembaga2 zakat maupun dati depa Ri, belum bisa menjamin jumlah pastinya. Meskipun dalam masa "resesi ekonomi" yang berdampak pada dunia, maupun di Indonesia. Toh minat untuk berkurban tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Dari fakta mengagumkan di atas, kita bisa sedikit menganalisa. Dengan cara yang amat sederhana. yakni berkenaan dengan nilai dari kurban itu sendiri... Ibadah agung guna mendekatkan diri kepada Allah Swt tsb, seakan hilang setelah hari tasyrik (13, 14, 15 Dzyulhijjah) dalam penghabisan. Toh keadaan umat tetap dalam kejahiliyaan modern. Masyarakat masih tetap hidup jauh dari nilai suci agama Islam. Termasuk kita sbg mahasiswa muslim, dari Universitras Islam, dan bahkan dari Prodi Hukum Islam (Syari'ah. Padahal ibadah telah kita lalui. Kurban yang telah dilaksanakan hilang nilai2nya.



Seorang mahasiswa jika ingin mendapatkan nilai yang memuaskan, perlu "berkurban" waktu, pikiran, tenaga, harta dan jiwanya. Caleg harus berkurban jika ingin duduk di senayan. untuk menjadi pengusaha sukses juga berkurban dengan segalanya. dan kalw boleh dimasukkan, cinta diperoleh dg berkurban.

Nilai2 murni dari kurban itulah yang seharusnya bisa kita cari. Nilai ajaran murni yang diajarkan nabiyullah Ibrahim as hingga Rasulullah Saw. mari kita perbaiki ibadah kurban yang mapu menghadirkan semua itu.

Nabi Ibrahim as. berani untuk mengurbankan anaknya Isma'il as yang tidak lain adalah anak yang didamba selama 80 tahun. Dengan Ikhlas, tanpa ada keraguan, melaksanakan perintah ALLAH. Walaupun itu adalah sesuatu yang teramat dicintainya. Rasulullah berkurban dengan harta, jiwa, pikirannya, semuanya untuk Allah dan AjaranNYA. demikian juga para sahabat, tabi'in... dan bahkan para pejuang Bangsa INi...

Mulai menata niat...Ikhlas, murni, semata2 hanya karena ALLAH. jagn pernah dicampuri dengan niat lain. mungkin dengan niat yang dibawa dari Instansi yang berkurban, sbg sarana promosi misalnya..hingga kurban yang mampu mendidik umat untuk semakin sadar akan Islamnya.

Jadi dari nilai kurban yang identik hanya bagi2 daging hewan, menjadi nilai murni ajaran Ikhlas taqarrub Ilallah... Kasihan Umat yang semakin jauh dari ajaran Islam.
Wallahu a'lam...


Berani HIdup, Tak Takut Mati
Takut Mati, Jangan Hidup.
Takut Hidup, MAti Saja...
Mari Meraihnya....

Allahu Akbar...
Allahu Akbar....
:)

Read More......
Minggu, Desember 07, 2008

Waktu…

Aku telah membuang-buang waktu. Hanya demi melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak memiliki arti cukup penting dalam hidup. Hanya karena sebuah cinta yang membuat aku terlarut kedalamnya, membuatku tergila-gila,s ehingga aku tidak dapat melepaskan diri dan lari dari belenggu cinta.

Mengapa?

Hanya karena hal-hal itu saja aku menyia-nyiakan waktu? Memang, aku pernah dengar bahwa kata orang, hidup itu tak ada artinya tanpa sebuah cinta.

Ya…

Kuakui itu memang benar, karena cinta adalah hal terindah dalam hidup, dalam sebuah cinta kita akan merasakan rasa sayang dari pasangan kita, karena itulah cinta menjadi sebuah hal yang indah dan disukai orang-orang,anak-anak dibawah umur pun sudah banyak yang merasakan cinta, walaupun sebenarnya cinta membutuhkan pengorbanan yang besar,bahkan waktu rela dikorbankan, hanya demi mendapatkan sebuah kesempurnaan cinta.

Kini aku sadar bahwa cinta tidak dapat hidup tanpa waktu, karena tanpa waktu tak akan pernah ada cinta, karena dengan waktu kita dapat menjalankan kisah cinta kita.

Aku pun mulai sadar, bahwa aku masih belum membutuhkan cinta, karena aku bukanlah seseorang yang tak bisa hidup tanpa cinta, memang kuakui aku masih menginginkan cinta, tapi mengapa? setiap aku merasakan cinta, waktu selalu tak mengizinkan.

Memang hidup tanpa cinta akan membuatku sengsara, karena dengan cinta kita dapat menemukan pasangan hidup kita, kita juga pasti akan menemukan cinta sejati kita, bahkan aku pun berangan-angan dapat menjalankan kisah cinta dengan pasanganku tetapi itu tak berjalan sesuai dengan angan-anganku sebab waktu tidak mengizinkan, tidak apa-apa memang mungkin itu sudah nasibku untuk tidak boleh mengalami sebuah cinta, baiklah itu aku terima.

Tetapi hidup tanpa waktu adalah hidup yang tak memiliki arti dan tujuan hanya ada kekosongan dalam hidup tanpa waktu, hanya ada kesendirian dan kesunyian

Dan mulai sekarang aku akan menghentikan kisah cintaku, lalu akan memulai hidup tanpa cinta dan aku akan berusaha membahagiakan diriku walau hanya dengan sebuah waktu.


Read More......

Usia....dan Cerminan Hidup Dalam Perubahan


07 December 1988 - 07 December 2008

HUp... tak terasa atau mungkin tak pernah aku rasakan...Usia terus berkurang. Tapi amalan Ibadah tak kunjung bertambah kualitasnya. Ilmu juga hanya sekedarnya saja. Tapi kenapa aku masih enggan untuk bangkit... memperbaiki diri...Meningkatkan kualitas ilmu..bangkit....dan bangkit..

Padahal Usia tak pernah kembali lagi. Yang pergi akan terus pergi. yang hilang tanpa pernah dikendalikan, akan mengendalikan kita. Umur akan mengejar kita...Padahal Usia adalah amanah besar dari Allah SWT. Surat al-Ashr, al-Qiyamah, an-Naba', adh-Dhuha, al-Fajr dan masih banyak yang lainnya mengingatkan kita akan waktu. Sekali lagi ini adalah amanah...

Dan diusia yang bilangannya bertambah, tapi kuantitas terus berkurang ini,Allah SWT masih memberikan Kesempatan untukku. Walau aku adalah hamba yang sering kali lalai. Walau Terlampau banyak aku bermaksiat padaNYA. ALlah...Allah,,,,Allahummah dini Shirathal Mustaqi,,,m. Tunjukkan jalan yang lurus...Jalan Ridha-Mu. Tunjukkanlah yang benar itu benar,dan berikanlah kami kekuatan untuk melaksanakan dan membelanya.
Dan tunjukkan yang salah itu salah, serta berilah kami kemampuan untuk merubah dan menjauhinya. Jangan pernah Engkau jauhkan TAUFIQ, HIDAYAH mu dari jiwa hamba....


Sekali kali aku coba untuk bercermin lebih lama. Memperhatikan dengan seksama apa yang terjadi pada kita. Kita tentu akan menjumpai banyak hal. Kumis dan jenggot yang dua tahun lalu tak pernah ada, kini dengan setia menghiasi wajah kita. Jerawat juga ada, yang sepuluh tahun yang lalu tak ada. jika kita bercermin lebih sering dan lebih lama lagi, entah berapa tahun kedepan, akan kita dapati rambut mulai menipis, kulit mulaimengendur, tubuh yang mulai tambun, pipi tembam dan masih banyak lagi. Pendek kata,telah banyak yang berubah dari kita. Perhatikan juga orang di sekitar, niscaya akan kita temui hal yang sama.
Ada bayi yang baru lahir, sahabat yang kini tinggal nama,kawan seasrama yang baru pindah, atau pendatang baru yang datang .

Sekarang kita arahkan pandangan kita ke lingkungan. Dari lingkungan asrama, kos, kampus, kantor, masjid, kampung, kota, hingga negara dan bahkan dunia. Niscaya perubhan itu akan kita dapati dimana-mana. Persawahan menjadi Perumahan atau pabrik,kebun jadi villa dan hotel,atau danau menjadi perhotelan dan apartemen.

Seperti kata orang bijak:"Perubahan itu memang sesuatu yang niscaya. Satu-satunya yang tetap di dunia ini adalah Perubahan itu sendiri. Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, kita harus berhadapan dengan perubahan itu. Jika kita siap dan cerdas menyikapi perubahan, niscaya kesuksesan akan dapat diraih.Tapi jika sebaliknya, kita tidak siap, maka pasti akan khawatir, takut, dan kemudian akan terbentur dan terpukul oleh perubahan.

Umat sudah berubah, Dunia berubah, Iklim berubah, Politik berubah, Ekonomi Berubah,,, semua berubah. Kini perubahan ke arah global gencar di gaungkan, bergerak dengan cepat di depan kita.Amerika yang super power dan digdaya, hancur digilas krisis dan resesi Ekonomi yang mereka ciptakan dari keserakahan mereka sendiri. Harga minyak yang enam bulan lalu begitu tinggi menjulang, membuat negara pengekspor minyak mengeruk keuntungan, kini bahkan tidak berani dengan leluasa menjual minyaknya. Harga minyak jatuh 50% karena rendahnya permintaan.

Pertanyaannya, Bagaimana menyikapi semua perubahan itu dengan cerdas? Jawabannya adalah pandai-pandailah mengambil i'tibar. Menemukan esensi kehidupan sebagai hasil adari proses muhasabah dalam semangat Ibadah kepada Allah SWT. I'tibar pertama yang kita temukan adalah perubahan itu adalah karena kuasa Allah. Kesuksesan, kejayaan, keberhasilan, kehancuran, kegagalan, kebinasaan adalah sunnatullah yang pasti akan terjadi. Siapa yang hidup berpegang teguh akan ajaran-NYA, hidup dalam pola sunnah yang ditetapkannya, cepat atau lambat pasti akan menemukan kejayaannya. sebaliknya jika melanggar dan mengabaikan bahkan menentang ketetapan-NYA, baik secara perlahan atau tiba-tiba, akan hancur lebur. Padahal perubahan itu cenderung mengarah ke arah kejahiliyyaan dan kesesatan.

"...dan demikianlah hari2 (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)...." [Q.S. Ali Imran (3):141]

I'tibar kedua, Allah tidak akan merubah dan mencabut nikmat-NYA, sampai kita sendiri yang mengubahnya dengan pola hidup penuh kesyirikan, kebathilan, kemunafikan, dan jauh dari ajaran Islam. Nikmat sehat akan dicabut lantaran kesehatan digunakan untuk maksiat kpada Allah, minum alkohol, begadang tanpa arti (kongkow, disko, dugem dll, makan tanpa batas, dll. Nikmat bahagia akan hilang, karena lalainya kita bersyukur atas semua nikmat yang Allah berikan kepada kita. kita lebih dekat dari kesesatan dari pada berusaha mendekati Agama ALLAh...

Pilihan ada pada kita. Tetap teguh di jalan-Nya, sehingga nikmat itu akan senantiasa bersama kita dan bertambah karena keberkahannya hingga hari akhir kelak. atau hidu mencong kanan- mencong kiri menjauh dan semakin jauh dari ajaranNYa. maka Allah tak akan segan mencabut nikmat-Nya bahkan melontarkan Adzab pedih-NYa. Fa'tabaru Ya Ulil Abshar la'allakum turhamun. Panadai-pandailah bersyukur dan mengambil pelajaran Wahai orang-orang yang mempunyai visi agar kalian mendapat rahmat.


hamba yang lemah tanpa Taufiq-MU

Read More......

Rektor UII Masuk Top 100 Educators of the Year versi Majalah Campus Asia

Senin, Desember 01, 2008

Satu-satunya Rektor PTS

Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) yang juga adalah ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) 2008-2009, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. kembali meraih pengakuan tingkat nasional atas prestasinya dalam memimpin perguruan tinggi. Adalah majalah CampusAsia yang membuat peringkat tersebut dalam edisi November-Desember 2008. Prof. Edy masuk bersama 15 tokoh lainnya sebagai Great Achievers from State Universities.

Sebelum menentukan sejumlah tokoh pendidikan menurut versinya, CampusAsia terlebih dahulu melalui beberapa tahapan, yaitu menentukan profil 500 pendidik dari survei, polling, latar belakang penelitian, dan rekomendasi dari panel ahli. Screening pun dilakukan antara lain untuk melihat kapasitas masing-masing kandidat untuk kemudian dinilai berdasarkan ranking. CampusAsia menggunakan delapan kriteria dalam memberikan peringkat Top 100 Educators bagi para pendidik yang terseleksi, yaitu:

- cognitive recognition & imparting (score maksimal 15);
- magnitude of achievement (score 10);
- skills & talent development (score 10);
- conduct, attitude & personality (score 15);
- facilitation & empowering of learning (score 10);
- international exposure (score 10);
- social service & contribution (score 15);
- role model & integrity in society (score 15).




Dengan total score seluruh kriteria adalah 100. Dari kedelapan criteria tersebut Prof. Edy mengumpulkan nilai 74 dan berada di posisi ke-15 dari 16 rektor dalam kategori tersebut.

Ranking


Nama


Perguruan Tinggi


Nilai

1


Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Sumantri


Universitas Indonesia


88.3

2=


Prof. Dr. Djoko Santoso


Institut Teknologi Bandung


88

2=


Prof. Soedjarwadi


Universitas Gadjah Mada


88

4


Prof. Priyo Suprodo


Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya


87.3

5=


Prof. Dr. Ganjar Kurnia


Universitas Padjadjaran


86.7

5=


Prof. Idrus A Paturusi


Universitas Hasanuddin


86.7

7


Prof. Chairuddin Lubis


Universitas Sumatera Utara


85.3

8=


Prof. Dr. Azyumardi Azra


Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta


84.3

8=


Prof. Dr. Fasich, Apt.


Universitas Airlangga Surabaya


84.3

10


Prof. Dr. Dami M. Daud


Universitas Syah Kuala Aceh


82.3

11


Prof. Dr. I Made Bakta


Universitas Udayana Bali


80

12


Prof. Dr. Yogi Sugito


Universitas Brawijaya Malang


78.7

13


Prof. Dr. Sunaryo Kartadanita


Universitas Pendidikan Indonesia Bandung


77

14


Prof. Dr. Badia Parizade


Universitas Sriwijaya Palembang


75

15


Prof. Dr. Edy Suandi Hamid


Universitas Islam Indonesia Yogyakarta


74

16


Prof. Dr. Susilo Wibowo


Universitas Diponegoro Semarang


73.3




Sumber: CampusAsia November-December 2008, hal 140. (Untuk versi asli klik di sini )

Dalam ulasannya, CampusAsia menjelaskan bahwa apresiasi yang diberikan kepada Prof Edy antara lain didasarkan pada komitmennya dalam membangun UII sebagai world class university. Hal ini antara lain dapat dilihat dari pengembangan kelas internasional di beberapa fakultas di UII yang terus dilakukan di masa kepemimpinannya.

Kepemimpinan berorientasi global yang selama ini menjadi ciri khas Prof Edy, menurut CampusAsia juga merupakan modal penting bagi UII dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Kredit khusus juga diberikan atas prestasi Prof Edy dalam memimpin FRI yang menjadi media bagi pimpinan perguruan tinggi di Indonesia untuk menyuarakan masalah-masalah kebangsaan.

Sumber : Humas UII


Read More......