Sebuah Cinta Bagi Kehidupan (2)

Senin, Maret 23, 2009

Cinta Tumbuh Di Bumi

Diceritakan dari Atsar dan kisah-kisah orang terdahulu, bahwa Adam diturunkan di India, sedangkan Hawa diturunkan di Jeddah. Mungkin dari sinilah asal nama “Jaddah” yang berarti nenek dalam bahasa arab.

Setelah turun ke bumi, Adam terus mencari Hawa. Menysuri setiap jengkal daratan yang dilalui, membentang mulai dari India sampai ke jazirah Arab. Cinta yang ada pada hati Nabi Adam memberikan kekuatan ekstra yang dapat mengantarkannya menemukan sang pujaan hati.

Hingga, mereka berdua dapat bertemu kembali di gunung di Arafah, yakni Jabal Rahmah yang memiliki makna Gunung Kasih sayang. Jika kita perhatikan, kita akan mendapati bahwa Arafah itu lebih dekat dari Jeddah dan tentu sangat jauh dari India. Jadi Adamlah yang lebih bersusah payah serta lebih banyak mencari dari pada Hawa, hingga ia pun sampai kepadanya.

Sekali lagi fitrah manusia bekerja. Dengan fitrah manusia bahwasannya yang melindungi adalah laki-laki, yang menjamin keamanan adalah laki-laki, yang bertanggung jawab untuk memberikan nafkah adalah laki-laki. Maka fitrah dalam diri Nabi Adam membimbingnya untuk segera mungkin menemukan hawa. Bukan Hawa yang harus mencari Adam, tapi adamlah yang mencari Hawa.

Sungguh indah Allah menciptakan manusia. Lihat bagaimana kelebihan yang diberikan kepada Nabi Adam akan melengkapi kekurangan yang ada pada Hawa. Sedangkan kelebihan yang terdapat pada Hawa akan menyempurnakan kekurangan yang ada pada Nabi Adam. Ada ikatan yang jelas pada keduanya… Subhanallah….

Siapa Yang Lebih Cinta?

Kita dapati pada kitab-kitab tafsir, sebuah ungkapan yang sangat indah. Topik ini diceritakan dengan tenang, tidak dengan kebencian seperti dikatakan oleh sebagian orang. Al-Qurthubi (seorang ulama’ Tafsir) menyebutkan bahwa malaikat bertanya kepada nabi Adam, “Apakah engkau mencintai Hawa?” Adam menjawab,”Ya, tentu.” Kemudian malaikta bertanya kepada hawa, dengan pertanyaan yang sama,”Apakah engkau mencintai Adam?” Hawa menjawab “Tidak.”

Bagaimana mungkin hawa menjawab seperti itu, padahal, di hatinya terdapat cinta yang berlipat-lipat dari cinta Adam kepadanya. Dalam jiwanya terdapat beribu-ribu kali lipat dari cinta Adam padanya… satu hal yang kami ketahui, Allah telah menghiasi dalam setiap diri wanita sebuah rasa malu. Sehingga wanita mampu menyimpan rasa cintanya jauh di dalam hati. Ia bisa berkata tidak, meskipun hatinya dengan lantang mengatakan Ya!!!

Rasa malu pada diri wanita inilah yang akan menjadikan wanita tampak lebih mempesona. Tanpa rasa malu, kemungkinan besar wanita akan menjadi makhluk yang rendah. Maka tidak heran, bahwa yang bertugas mengutarakan cinta adalah laki-laki dan yang meminang adalah laki-laki. Laki-laki tidak mungkin sanggup menyembunyikan rasa cintanya. Ia akan menampakkan cintanya secara nyata. Wallahu a’lam.

Berbicara tentang “Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam,” yang menjadi pertanyaan adalah, “ mengapa hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, pada saat Adam sedang tertidur?” mengapa Hawa diciptakan ketika Adam sedang tidak siuman?”

Adam tidak merasakan sakit saat penciptaan Hawa. Seolah ia berada dalam pengaruh obat bius. Padahal perempuan, saat ia melaksanakan operasi bersalin, ia dalam keadaan sadar (siuman). Mereka (ulama) mengatakan, karena perasaan Hawa lebih kuat dari perasaan Adam. Ia tidak merasakan susah dengan operasi itu, atau merasakan sakitnya, sedangkan Adam tidak akan tahan dengan rasa sakit itu.

Dalam diri wanita, akan kita jumpai juga kekuatan yang teramat sangat besar yang bersumber dari betapa kuat perasaannya. Hati wanita yang lebih lembut tersebut, akan sangat berperan bagi keberlangsungan kehidupan umat manusia. Karena jika kita bayangkan, bagaimana kehidupan dunia jika diciptakan dengan satu sisi saja, akan sangat membosankan….
Allah telah menciptakan dunia ini dengan begitu indah, karena Allah Maha Indah, yang menyukai keindahan… jagalah amanah Allah yang sangat indah ini….


Diedit dari Buku Dengarkan Suara hati karya ‘Amru Khalid halaman 101-102

Read More......

Sebuah Cinta Bagi Kehidupan (1)

Dimana Cinta Berawal

Pembahasan tentang cinta adalah pembahasan yang tiada akan habis-habisnya. Satu perkara yang paling banyak diperbincangkan oleh pemuda dan pemudi di seluruh dunia. Maka, dimanakah posisi cinta di dalam hati kita? Kita harus benar-benar jujur dan terbuka terhadap hati kita.

Saya tentu akan sangat berhati-hati untuk masuk dalam pembahasan ini secara langsung. Sebagian pemuda mungkin akan berkata bahwa mereka telah mengetahui apa yang akan dibahas dalam masalah ini, hingga akan sangat banyak sekali yang tidak akan meneruskan untuk membaca hal ini.

Tidak ada di dunia ini yang akan mampu mengartikan dan memberikan pengertian tentang cinta. Karena ia hanya bisa dirasakan dalam hati. Maka setiap orang berhak memberikan pengertian tentang cinta. Di sini saya hanya kana menyampaikan meneurut pandangan saya.

Cinta: Sebuah Fitrah

Apakah cinta merupakan naluri alami yang diciptakan Allah untuk manusia? Apakah manusia mungkin hidup tanpa cinta? Anda tentu tahu, bahwa saat ini berbicara tentang cinta dalam konteks agama. Anda boleh mengira bahwa kita akan mengatakan; ”Cinta adalah cintamu untuk ayah dan ibumu.” Benar. Itu termasuk salah satu jenis cinta. Asal mula cinta tentu saja dari Allah SWT. Namun biarlah kita menanyakan; “mungkinkah manusia tidak butuh cinta, serta hidup tanpa cinta, tanpa mencintai dan dicintai?. Apakah hal itu mungkin?” tentu saja jawabannya “Tidak.” Meski akan da yang menjawab “Mungkin.”

Tetapi patut kita cermati, tak ada seorang pun yang hidup tanpa cinta. Kalau perasaan alami ini tidak Allah ciptakan niscaya manusia tidak akan mempunyai harapan untuk meneruskan hidup atau berkembang biak. Naluri inilah yang menjadi salah satu sebab yang menajdikan kehidupan berlangsung terus. Jadi, mana mungkin kita bisa berpikir untuk menghilangkan ataupun membuangnya dari kehidupan kita. Tidak mungkin juga kita berpura-pura menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak ada.

Sebagian orang akan mengira, bahwa pada saat kita sedang berbicara dalam konteks agama, maka tidak ada yang namanya cinta. Ini tentu saja merupakan anggapan yang keliru.
Naluri untuk mencintai dan dicintai telah ada sejak dimulainya kehidupan; sejak diciptakannya Nabi Adam as. Dalam Hadits telah diceritakan bahwa Nabi Adam, saat ia memasuki surge ia merasa tidak nyaman. Walau ia telah berada dalam kenikmatan surgawi, ia merasakan ada sesuatu yang kurang. Ia merasakan bahwa ia membutuhkan sesosok pendamping. Ini bukan cerita khayalan, melainkan bersumber dari perkataan Nabi SAW.

Maka tatkala Nabi Adam tertidur, Allah menciptakan sesosok makhluk lain. Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuknya. Saat ia terbangun dari tidurnya, ia melihat Hawa telah berada disampingnya. Nabi Adam berkata,”Siapa kamu?” Ia menjawab, “Aku perempuan”. “Siapa namamu?” “Namaku Hawa”. Mengapa kamu diciptakan?” Hawa menjawab,” Untuk tinggal…”
Kata “tinggal” ini adalah ketenangan. Hawa bukanlah budak Adam ataupun miliknya. Namun yang dimaksud disini adalah,”Wahai Adam, atau wahai setiap bani adam yang berada dimuka bumi sampai hari kiamat, tidak ada tempat ada tempat tinggal dan ketenangan bagimu, kecuali bila kamu berada disamping Hawa. Itulah agama dan pemahaman kita. Islam menempatkan fitrah sesuai dengan tempatnya.

Pandangan Terhadap Perempuan

Yang menakjubkan, jika kita membaca kitab-kitab samawiyyah (agama langit: yahudi dan nasrani) atau kitab-kitab lain selain samawiyyah dalam agama-agama lain. Kita akan mendapati pandangan mereka terhadap kaum hawa sangat buruk dan terkesan dhalim.

Ia melihat perempuan bukan termasuk jenis manusia. Perempuan mempunyai derajat lebih sedikit dan lebih rendah daripada laki-laki. Diantara kitab-kitab itu ada yang berpandangan, bahwa Hawa-lah yang menyebabkan Adam jatuh ke dalam maksiat, penyebab turunnya Adam ke bumi, serta penyebab Adam memakan buah terlarang yang berarti Adam melanggar perintah Allah.

Padahal, sebenarnya al-Qur’an sama sekali tidak pernah mengatakan seperti itu. Al-Qur’an meletakkan kesalahan itu kepada keduanya (Adam dan Hawa). Keduanya pula yang bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Mari kita renungkan ayat ini:

Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya. Dan setan berkata:” Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)” (al-A’raf [7]:20)

Ayat ini tidak hanya berbicara mengenai Iblis yang telah menertawakan serta menipu haw saja, tetapi juga berbicara tentang iblis yang telah menggoda dan menggelincirkan mereka berdua. Tanggung jawab tersebut dipikul berdua. Keduanya telah memakan buah yang terlarang dan keduanya juga telah diturunkan ke bumi.

Jadi itu bukan semata-mata kesalahan Hawa saja, melainkan juga kesalahan Adam. Sekali lagi Islam meletakkan perkara ini pada posisi yang tepat. Perempuan diletakkan sejajar dengan kaum laki-laki. Hanya satu hal yang membedakan, hanya tanggung jawab. Wanita berada dibawah tanggung jawab laki-laki.

Bayangkan saja jika itu hanya kesalahan Hawa, maka hanya Hawa yang akan diturunkan ke dunia. Sungguh tidak adil. Hanya iman dan taqwa seseorang lah yang menjadikan Ia mulia…
Wallahu a’lam….

Diedit dari Buku Dengarkan Suara hati karya ‘Amru Khalid halaman 99-101

Read More......

We'll Not Go Down

Minggu, Maret 15, 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die

We will not go down
In the night, without a fight
We will not go down
In Gaza tonight

by Michael Heart

Read More......