Sebuah Lagu dari Daniel Powter : Love U Lately

Kamis, September 17, 2009

You packed your last two bags
A taxi's 'round the bend.
You used to laugh out loud,
but you can't remember when.
You lost your lies.
It's like your moving out of time,
And the whole word
crumbles right beneath you.

So, I might've made a few mistakes,
but that was back when you would smile,
And we would go everywhere,
but we ain't been there for awhile.
And this I know,
there's a place that we can go-
A place where I can finally let you know.


'Cause I'm the one that loves you lately.
You and me, we got this great thing.
We're the only one's that around,
We're the only one's that around this Babylon.

I hope you find
whatever you've been lookin' for.
Just remember where you're from
and who you are,
'Cause there's a thousand lights
that'll make you feel brand new,
But if you ever lose your way,
I'll leave one on for you.

'Cause I'm the one that loves you lately.
You and me, we got this great thing.
So, come back and you sit down. Relax.
Everything's to see
that you've come a long, long way,
And it's the place that you should be.

'Cause I'm the one that loves you lately.
You and me, we got this great thing.
'Cause I'm the one that loves you lately.
You and me, we got this great thing.
And we're the only one's that around,
We're the only one's that around this Babylon

Read More......

Aku Hanya Pejalan

Sabtu, Mei 09, 2009


Aku hanya pejalan
yang mungkin hanya sejenak saja
Merasakan semilir angin persahabatan
yang engkau hembuskan
dengan setengah hatimu

Dalam diamku,,,
ada seribu tanya tak terjawab
Tapi...Ahh..
Aku rasa tidak akan ada ruang
untuk merentangkan tanya itu padamu

Dalam diammu..
ada sejuta harapan yang tak mungkin kuraih,,,
sikapmu...bekukan magma di kalbu
diamku adalah sendu dan rindu

Mungkin Kelak
segalanya akan tersingkap
sebagaimana pagi pun
pasti datang menjelang
setelah gulita malam
ketika gelap menyempurnakan gelisahnya

Dalam sepiku, aku sadar
aku begitu bodoh
untuk melupakan
ada Dzat yang senantiasa
selalu bersama diriku
meski aku sering menjauhi-NYA

aku lupa...
tapi DIA tak pernah melupakanku
DIA yang senantiasa menyayangiku
DIA yang senantiasa menjagaku
DIA yang senantiasa mengerti akan kelemahanku

yah...
sekarang aku yakin
Hanyalah ALLAH yang selalu
bersamaku...
walaupun seluruh dunia menjauhiku

Setengah dari orang-orang mungkin menyukaiku,
setengah yang lain mungkin tidak.
atau bahkan semua orang membenciku
Tapi sepanjang hidup saya,
ada ekspektasi tinggi yang saya miliki untuk bisa berusaha
membuat mereka yang tidak percaya (pada saya) menjadi percaya
Biarkan semua pergi...
seperti bulan april..

YA ALLAH...
bimbinglah hamba hina-MU ini
Aku...hamba-MU yang lemah
Ingin Selalu Memperbaiki Diri...

diedit dari http://terminalkatabijak.blogspot.com/

Read More......

Frank "Bilal" Ribery : Muslim yang Bersinar di Tengah Lapangan Hijau Eropa

Sabtu, Mei 02, 2009

kabar menghebohkan datang dari klub kesayanganku, Mnachester United, salah satu klub terbaik sepanjang sejarah. klub berjuluk the red devils itu dikabarkan tertarik untuk memboyong pemain muslim, Frank "Bilal" Ribery dari Fc Hollywood. Dan harga yang diajukan juga tidak main-main, sekitar 61,5 juta pounds atau setara dengan unag 1 trilliun rupiah!!! hal inilah yang memantik pikiranku untuk memposting pemian muslim dengan skil yang mengagumkan tersebut.


Franck Ribéry (lahir pada tanggal 7 April 1983, di Boulogne-sur-Mer) adalah seorang pemain sepak bola Perancis yang bermain untuk Olympique Marseille pada posisi tengah menyerang atau sayap kiri dan kanan, dan baru-baru ini dinobatkan oleh beberapa media Perancis sebagai penerus dari pemain legenda Zinedine Zidane, karena penampilannya yang terus membaik. Pada usia mudanya dia mengalami kecelakaan sehingga meninggalkan bekas di bagian kanan muka dan dahinya. Ribery kini bermain bagi FC Bayern Muenchen dengan mengenakan nomor punggung 7. Ribéry memeluk agama Islam dan menjadi Muslim setelah menikah dengan istrinya yang keturunan Maroko.

Franck Ribery, punya kebiasaan baru sebelum merumput. Pemain muda berusia 26 tahun yang disebut-sebut sebagai pengganti Zinedine Zidane, ini, selalu menengadahkan tangan ke langit sebelum berlaga bersama Les Bleus di Piala Dunia. Dia berdoa layaknya seorang Muslim. Benarkah pemain termuda di tim Prancis ini seorang Muslim?

Kabar Ribery masuk Islam, menyeruak sejak awal tahun 2006. Kabar itu mula-mula dilansir L’Express. Majalah ini menyebut adanya pemain nasional Prancis yang secara teratur beribadah di masjid di selatan Marseille. Mingguan itu tak menyebut nama secara eksplisit, namun yang dimaksud adalah Ribery. Kendati aksi berdoanya di lapangan hijau telah menarik perhatian publik Prancis, Ribery yang merupakan pencetak gol pertama plus optimisme bagi Prancis saat melawan Spanyol, itu, tetap enggan mengemukakan keyakinan barunya itu secara terbuka. Gelandang kanan klab Olympique Marseille, ini, mengatakan keimanan barunya adalah perkara pribadi, tak perlu publikasi.

Alhasil, sejumlah spekulasi pun bermunculan. Ada yang menyebut isteri Ribery yang asli Maroko memainkan peran penting terhadap perubahan Ribery. Ada pula yang menyebut perubahan itu terjadi sejak Ribery membantu klab Turkish Galatasary pada tahun 2005 lalu. Ribery memang setahun tinggal di negara berpenduduk mayoritas Muslim itu, dan membantu tim itu memenangi Piala Turki 2005.

Tapi tak selamanya Ribery bisa diam. Baru-baru ini, dia bersedia diwawancarai majalah Paris Match. Apa katanya? ”Islam adalah sumber kekuatan saya di dalam maupun di luar lapangan,” Dia menambahkan, ”Saya menjalani karier yang berat. Saya kemudian berketetapan hati untuk menemukan kedamaian. Dan akhirnya saya menemukan Islam" kata Ribery penuh keyakinan.


Tanggal lahir 7 April 1983 (umur 26)
Tempat lahir Boulogne-sur-Mer, Perancis
Tinggi 175 cm
Panggilan akrab Scarface ("Si Codet"),
The Magician (Sang Pesulap), FerraRibery
Informasi klub
Klub sekarang Bayern Muenchen
Posisi Gelandang Menyerang
Klub profesional*
2001-2002
2002-2003
2003-2004
2004
2005
2005-2007
2007- US Boulogne
Olympique Alès
Stade Brestois 29
FC Metz
Galatasaray
Olympique Marseille
Bayern Muenchen 24 (5)
18 (1)
35 (3)
20 (2)
14 (0)
54 (12)
4 (1)
Tim nasional**
2006 - Perancis 19 (2)

* Jumlah penampilan klub profesional dan gol
dihitung hanya untuk liga domestik dan
benar pada 2 September 2007.
** Jumlah penampilan dalam tim nasional dan gol benar
pada 2 September 2007.

Read More......

Kekasih Hujan

Sabtu, April 04, 2009

Sebuah kisah yang kutemukan dalam segala kebimbangan hati yang tak pernah menentu. Aku ingin menjadi semua musim. Tapi kau hanya ingin aku menjadi sebatas hujan. hanya hujan...Aku mencoba mengerti...

BEGINILAH cara kita berpisah kekasih. Mungkin kelak aku hanya mengingatmu sebagai hujan. Kau. Wanita dengan nama yang indah.Wanita dari langit ke-4. Sekali waktu bahkan kau benar-benar ingin kupanggil: Hujan. Sesuatu yang terasa kosong.

Perpisahan kita adalah juga pertemuan tak bernama. Entah mengapa kita harus membuat janji menziarahi pantai dan laut itu. Kaukatakan bahwa perjumpaan terakhir, barangkali penting untuk sepasang kekasih, kalau tidak, kau tidak bisa bayangkan bagaimana cara menempatkanku dalam kenangan nanti, saat aku memilih kehidupan lain bersama seseorang yang kuyakini lebih mencintaiku daripada kau, sebagaimana juga kau pun akan begitu. Kukira, kau memang benar. Kita harus menjaga diri dari rasa saling benci, sebab kita pernah begitu mencintai (itu pun kalau kau tak berbohong. Aduh. Aku sungguh tak bisa bayangkan cintamu sebuah kebohongan. Tidak mungkin. Kau mencintaiku, aku merasa begitu. Kedalaman matamu sering bicara padaku. Mata yang kukira sesuatu yang paling jujur dalam dirimu).

Lalu pantai dan laut, kekasih. Kita berbagi. Di sini. Ada sekelopak tangis. Ada cerita canda. Ada tawa getir. Kita seperti sengaja menghibur diri. Membangun suasana sehangat mungkin, dekat dan penuh bunga. Kau membujukku untuk mengatakan apa aku benar-benar akan meninggalkanmu. Dengan manja, kukatakan, benar, aku akan segera pergi, barangkali ke negeri yang penuh bunga dan malam selalu purnama. Kau menatap, matamu mengiris mataku. Kubiarkan. Aku ingin teriris. Terbelah dan sakit. Aku. Kau. Memang harus membiarkan luka itu mengalir indah, menjadi rindu yang nanti akan kita simpan diam-diam. Hanya begitu.

Dan, marilah, pecah suaramu, kita masuk dalam rimba cerita. Maka kau minta aku mengurai kembali tentang seorang kekasih yang terlalu sering memetik pagi pada subuh dingin dan mengirimnya untuk wanita yang bahkan tidak mengerti bagaimana cara menjaganya. Wajahku bersemu. Setengah jengah dan malu. Aku merasa kau begitu tahu seluruh rahasiaku, termasuk bagaimana cara aku mencintai. Haruskah aku ceritakan lagi. Tentu saja, katamu tegas. Untuk apa. Untuk membahagiakan hatiku yang luka, kau berbisik. Siapa yang sesungguhnya luka. Aku, bisikmu. Kauremas rambutku. Tidak. Kau berbohong. Luka itu, sesuatu yang kau ingin. Karena itu, jangan pernah merasa terluka, apalagi dilukai.

Baiklah aku bercerita. Hanya saja cerita ini bukan untuk hatimu yang luka, tapi untuk kita. Aku. Kau.

***

Aku selalu memanggilmu Hujan. Tentu saja karena kau wanita dengan nama yang indah. Tanpa sepenggal ingatan kanak-kanak. Kehadiran yang sering kali kauyakini tak bermula. Kau hanya merasa lahir dari pecahan waktu. Lebih meyakini sebagai sesuatu yang kosong, sunyi. Kemudian sebuah ruang memintamu, hati ini, kekasih, tapi kau selalu mematahkan cintaku dengan cara yang kadang amat melelahkan. Begitulah kau.

Mencintaimu. Kuciptakan cinta yang berbeda. Hampir setiap pagi kukirimi kau sekeranjang puisi dan bunga rumput liar yang basah embun. Meski aku tahu, kau tak akan memaknai apa pun dalam kantukmu yang berat. Kekasih. Aku pernah teramat larut dengan debar di dada ini, apa mungkin kau pernah mengingatnya. Sedikit saja. Cobalah kaubuka kembali ruang masa lalu, pernah aku menangis di pelukanmu yang dingin dan menyerahkan sebilah belati sambil berkata gemetar: jika kau ingin membunuhku, bunuhlah aku dengan cara yang indah, mati sempurna sebagai pemuja cinta.

Kau hanya tertawa ketika itu. Kau kira aku main sandiwara. Atau kau memang memilih menikmati kematianku dalam sekarat yang panjang.

Bahagiakah kau mendengar cerita ini. Aku tampak tolol bukan. Cinta. Ah, ah. Cinta.
Sudahlah, kekasih. Cukup. Jangan kau minta aku bercerita lagi. Aku tidak ingin sampai pada ingatan yang akan membuatku menciptakan tangisan untuk sekian kali. Lagi pula aku tidak begitu percaya kau benar-benar mendengar ceritaku. Paling kau hanya ingin menguji sedalam apa aku pernah mencintaimu. Wanita, memang begitu, selalu ingin merasa dicintai. Kau menderita saat berpikir aku lebih mencintai wanita lain. Aku tahu. Aku mengenalmu diam-diam.

Adakah Lelaki dapat mencintai dengan lebih sabar. Ia, bukan lagi aku. Untuk itu, hujan, kekasihku. Kau memilih. Walau ternyata bukan aku. Walau pilihanmu bukan harapanku.

***

Seluruh basah. Seluruh.
Hujan. Kita digulung hujan. Pasir. Ombak. Senja. Pulau-pulau hilang dalam sekejap.

"Hanya kita."
"Ya."
"Semua ditelan hujan."
Aku. Kau. Berpegang tangan. Kita tengadahkan wajah sampai titik-titik hujan meninggalkan rasa nyeri yang menusuk. Kita belajar menghadapi rasa sakit.
"Kau bahagia," tanyaku.
"Kau?"
"Entahlah, mungkin hanya perasaan tak bernama."
Tawamu pecah. Kau memelukku erat.
"Jika mungkin, aku ingin terus melewati hujan bersamamu."
Jika mungkin. Jangan, kekasih. Berhentilah membangun apa pun yang sekiranya hanya akan menipu diri. Pertemuan ini tidak lebih dari perpisahan, kau tahu itu.
"apa kita tidak boleh lagi membangun apa pun yang bisa membuat bahagia."
"Mungkin tidak."
"Mungkin."
"Please....Aku tidak ingin membahas tentang mungkin. Semua selesai setelah ini, sampai hujan reda. Kita akan pulang, melupakan apa pun yang pernah."
"Jika hujan tak pernah reda."
"Sudahlah. Jangan memaksa begitu."
"Kau berharap hujan segera reda. Kita berpisah. Jadi benar kau lebih mencintainya."
"Kau mulai lagi."
"Aku hanya ingin mendengarnya sekali saja."
"Kemarin sudah kukatakan."
"Hanya lewat telepon. Aku ingin kau mengatakannya saat mataku menatapmu."
"Kau keterlaluan."
"Jadi benar."
"Kau tega."
"Aku atau kau."
"Kau."
Diam. Hanyut. Haru, "Aku tidak ingin percaya, tapi ternyata benar kau tak mencintaiku."
"Itu kesimpulanmu, tapi bisa saja benar."
Angin menghempaskan daun-daun ru, jatuh dan terserak. Kau menangkapnya sejarak pandang, "seperti itukah rasanya."
"Apa."
"Terhempas."
"Entah"

Sesuatu yang ngilu merayap. Menyentuh sepasang hati yang basah. Hujan. Lihatlah kita tergenang kesedihan yang bergelombang-gelombang. Kuyup. Kalau kau memang ingin, bawalah aku mengarungi lautmu yang meluap. Tapi kau tidak berani. Tidak ingin. Kau selalu hanya mampu mengulur mimpi. Hingga saat semua menjadi terlambat. dan semuanya jadi nyata.

***

Dalam sisa pertemuan yang merupakan perpisahan tak bernama ini, sesaat, kita meyakini bahwa hidup memang hanya serpihan mimpi saja, sedang kenyataan kita sembunyikan dari ingatan.

Lalu. Kita membuat dunia dalam hujan. Kau mengajakku bermain dengan pasir. Temani aku menciptakan cinta di laut dan pantai, pintamu. Aku memandang wajah basahmu, kujangkau matamu yang dalam. Hujan. Kau, seseorang yang namanya begitu indah, sekali ini kulihat benar-benar menjadi hujan yang ingin tumpah. Tumpahlah, kekasih. Mari kita bermain-main dalam hujan yang romantis ini.

Kau ingin berkata. Kuyakinkan, berkatalah. Biar kudengar rintik hujan di dadamu. Kuhangati kau dengan kesejatian yang tak pernah terbayangkan.

"Aku ingin kau menjadi hujan bersamaku." Kau meminta.
"Jadikanlah aku hujan."
"Kita akan meresap bersama dalam butir-butir pasir."
"Tentu."
"Kebahagiaan hanya milik kita."
"Aku dan kau."
"Sungguhkah."
"Heem."
"Ulurkan tanganmu."
"Untuk apa."
"Kita pergi sebelum hujan usai."
"Hahahaha. Sudah. Sudah." Aku tertawa, kemudian terdiam.Speechless. Kita amat keterlaluan mempermainkan perpisahan ini.

Kau ingin aku hilang pada musim lain yang datang bulan depan. Bagaimana bisa begitu. Kau selalu tidak adil. Sekali waktu kau ingin aku terpanggang api, pada saat lain kau pinta aku larut denganmu. Menjadi satu musim, hujan. Lalu ia. Lelaki yang kuyakini lebih mencintaiku, akan selalu menantikan kedatanganku selepas musim hujan ini.

Tidak, kekasih. Bukan dendam yang ingin kubawa pada perjalanan yang sedang menungguku. Kita. Mungkin pernah, dan lupakanlah. Aku akan terus menjalani sekian musim. Tidak seperti kau yang hanya ingin menjadi hujan.
Hujan.

***

Purnama indah, seharusnya April berbunga.

Lewat jendela seseorang melempar pesan. Aku terkejut dan melempar pandang. Hanya malam kosong, pesan kosong. Sesuatu yang kosong kembali serasa hadir dengan irama hujan yang semu.kosong dengan mendung, tanpa bulan dan bintang. Jauh dan sayup.
Kau. Hujan. Tidak mungkin. Musimmu telah jauh meninggalkanku. Mimpi apa lagi yang lupa kau ulurkan.

Kosong. Hanya sesuatu yang lirih dan nyaris tenggelam dalam kesunyian. Di kejauhan itu kau seperti diri tak berjiwa. Dingin. Berdiri dengan latar malam cekung di bawah bulan. Sesekali seringaimu tertangkap cahaya bulan. Kau mengirim rindu aroma kemboja. Bunga kesukaanmu, seingatku. Lalu. Sesuatu yang bagai lorong menarikmu dengan gerak teramat lambat. Kulihat pias kulit wajahmu dalam remang. Lorong cekung menangkap seluruh tubuhmu. Kau menolak dan berontak. Tanganmu menggapai-gapai. Ada yang ingin kaukatakan dengan gerak jarimu. Aku sungguh tak mampu membacanya. Terlalu absurd dan rumit. Mungkin bahasa hujan. Hujan. Seharusnya kau datang pada musimmu, biar kedatanganmu bisa kupahami dan tidak sekadar hadir sebagai sesuatu yang begini kosong. Sia-sia. Pesan kosong darimu jatuh di bawah bulan. Lihat. Bulan tertawa (Pertunjukkan yang benar-benar sempurna dari sekian purnama yang kusaksikan dari jendela ini).

***

Sebuah pesan singkat di HPku kubaca berulang-ulang sebelum kututup malam dan kubayangkan kau berkata: Kekasih, aku ingin menjadi hujanmu.
Hujan. Kau pergi. Dan kau telah memilih untuk pergi dan menjauh.
Dan kenapa terlalu jauh.


Padang, Desember 2004
Cerpen A Mustofa Bisri dengan beberapa editan.
Dimuat di Media Indonesia 01/09/2005 Telah Disimak 305 kali
Diambil dari : http://www.sriti.com/story_view.php?key=1325

Read More......

kau tahu itu..kau tahu aku..kau slalu begitu..dan slalu begitu...

waktu terus bergulir
meninggalkan cerita
buram dan sesal

waktu terus bergulir
entah hati ini akan memaafkan
dan kau tidak merasakannya

waktu terus berlalu
kau tersenyum
aku hanya bisa memandangmu

waktu terus bergulir
ombakku tlah reda
kapalmu berlabuh
dan aku pun tenggelam

waktu terus bergulir
disini hampa
slamat untukmu
tak tahu kapan kita bertemu lagi

by : Rahman Nur Wahyu di Kemudian.com

Read More......

Sebuah Cinta Bagi Kehidupan (2)

Minggu, Maret 22, 2009

Cinta Tumbuh Di Bumi

Diceritakan dari Atsar dan kisah-kisah orang terdahulu, bahwa Adam diturunkan di India, sedangkan Hawa diturunkan di Jeddah. Mungkin dari sinilah asal nama “Jaddah” yang berarti nenek dalam bahasa arab.

Setelah turun ke bumi, Adam terus mencari Hawa. Menysuri setiap jengkal daratan yang dilalui, membentang mulai dari India sampai ke jazirah Arab. Cinta yang ada pada hati Nabi Adam memberikan kekuatan ekstra yang dapat mengantarkannya menemukan sang pujaan hati.

Hingga, mereka berdua dapat bertemu kembali di gunung di Arafah, yakni Jabal Rahmah yang memiliki makna Gunung Kasih sayang. Jika kita perhatikan, kita akan mendapati bahwa Arafah itu lebih dekat dari Jeddah dan tentu sangat jauh dari India. Jadi Adamlah yang lebih bersusah payah serta lebih banyak mencari dari pada Hawa, hingga ia pun sampai kepadanya.

Sekali lagi fitrah manusia bekerja. Dengan fitrah manusia bahwasannya yang melindungi adalah laki-laki, yang menjamin keamanan adalah laki-laki, yang bertanggung jawab untuk memberikan nafkah adalah laki-laki. Maka fitrah dalam diri Nabi Adam membimbingnya untuk segera mungkin menemukan hawa. Bukan Hawa yang harus mencari Adam, tapi adamlah yang mencari Hawa.

Sungguh indah Allah menciptakan manusia. Lihat bagaimana kelebihan yang diberikan kepada Nabi Adam akan melengkapi kekurangan yang ada pada Hawa. Sedangkan kelebihan yang terdapat pada Hawa akan menyempurnakan kekurangan yang ada pada Nabi Adam. Ada ikatan yang jelas pada keduanya… Subhanallah….

Siapa Yang Lebih Cinta?

Kita dapati pada kitab-kitab tafsir, sebuah ungkapan yang sangat indah. Topik ini diceritakan dengan tenang, tidak dengan kebencian seperti dikatakan oleh sebagian orang. Al-Qurthubi (seorang ulama’ Tafsir) menyebutkan bahwa malaikat bertanya kepada nabi Adam, “Apakah engkau mencintai Hawa?” Adam menjawab,”Ya, tentu.” Kemudian malaikta bertanya kepada hawa, dengan pertanyaan yang sama,”Apakah engkau mencintai Adam?” Hawa menjawab “Tidak.”

Bagaimana mungkin hawa menjawab seperti itu, padahal, di hatinya terdapat cinta yang berlipat-lipat dari cinta Adam kepadanya. Dalam jiwanya terdapat beribu-ribu kali lipat dari cinta Adam padanya… satu hal yang kami ketahui, Allah telah menghiasi dalam setiap diri wanita sebuah rasa malu. Sehingga wanita mampu menyimpan rasa cintanya jauh di dalam hati. Ia bisa berkata tidak, meskipun hatinya dengan lantang mengatakan Ya!!!

Rasa malu pada diri wanita inilah yang akan menjadikan wanita tampak lebih mempesona. Tanpa rasa malu, kemungkinan besar wanita akan menjadi makhluk yang rendah. Maka tidak heran, bahwa yang bertugas mengutarakan cinta adalah laki-laki dan yang meminang adalah laki-laki. Laki-laki tidak mungkin sanggup menyembunyikan rasa cintanya. Ia akan menampakkan cintanya secara nyata. Wallahu a’lam.

Berbicara tentang “Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam,” yang menjadi pertanyaan adalah, “ mengapa hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, pada saat Adam sedang tertidur?” mengapa Hawa diciptakan ketika Adam sedang tidak siuman?”

Adam tidak merasakan sakit saat penciptaan Hawa. Seolah ia berada dalam pengaruh obat bius. Padahal perempuan, saat ia melaksanakan operasi bersalin, ia dalam keadaan sadar (siuman). Mereka (ulama) mengatakan, karena perasaan Hawa lebih kuat dari perasaan Adam. Ia tidak merasakan susah dengan operasi itu, atau merasakan sakitnya, sedangkan Adam tidak akan tahan dengan rasa sakit itu.

Dalam diri wanita, akan kita jumpai juga kekuatan yang teramat sangat besar yang bersumber dari betapa kuat perasaannya. Hati wanita yang lebih lembut tersebut, akan sangat berperan bagi keberlangsungan kehidupan umat manusia. Karena jika kita bayangkan, bagaimana kehidupan dunia jika diciptakan dengan satu sisi saja, akan sangat membosankan….
Allah telah menciptakan dunia ini dengan begitu indah, karena Allah Maha Indah, yang menyukai keindahan… jagalah amanah Allah yang sangat indah ini….


Diedit dari Buku Dengarkan Suara hati karya ‘Amru Khalid halaman 101-102

Read More......