MODERNITAS VS KONSERVATISME

Senin, Juli 07, 2008

BAB I
Pendahuluan

MODERNITAS VS KONSERVATISME
DAN
PAHAM ATAU ALIRAN MENYIMPANG DALAM ISLAM


Pengertian
Konservatif dan Modernitas
Globalisasi merujuk pada hilangnya batas-batas geografis yang sebelumnya menjadi matra pengikat solidaritas bagi masyarakat di satu negara, benua, ataupun satuan wilayah lainnya. Ia bertautan dengan fenomena menyatunya ikatan-ikatan solidaritas di bawah kepentingan untuk menjaga tegaknya tatanan dunia baru demi terwujudnya perdamaian.
Konservatif berasal dari bahasa latin com servare yang artinya melindungi dari kerusakan. Menurut istilah berarti menjaga dari adanya perubahan serta menjaga kemurnian dan keaslian dari ajaran agama.
Sedangkan modernitas berasal dari kata modern yang artinya adalah melakukan perubahan. Menurut istilah modernitas yaitu adanya perubahan dengan memperhatikan adanya perubahan zaman, social, ekonomi dan budaya..
Paham dan Aliran
Paham dan aliran adalah dua kata yang sering dimaksudkan untuk satu kata, seakan tiada beda. Karena memang keduanya mengandung arti adanya suatu pemikiran yang dianut dan dipercayai oleh sebagian orang dalam sebuah komunitas atau kelompok tertentu. Namun demikian ada sisi perbedaan dari kedua kata tersebut.
Kata paham, lebih menunjuk kepada suatu alur pemikiran yang menganut prinsip tertentu, tidak terorganisirdan tidak memiliki pemimpin pusat, meskipun memiliki tokoh sentral yang menjadi figur panutan paham tersebut. Pada dasarnya pengikut dari suatu paham adalah orang-orang yang kritis, senang berpikir, terbuka dan menyambut baik adanya dialog-dialog, meskipun terkadang tidak demikian.
Sedangkan aliran, lebih berkonotasi terhadap suatu pemahaman yang terorganisir, ada ketua, pengurus beserta anggotanya, mempunyai aturan-aturan tertentu dan mayoritas pengikutnya hanya bisa taqlid buta dan selalu mengiyakan serta mengikuti perkataan pemimpinnya. Pengikut suatu aliran tertentu kebnyakan adalah orang-orang yang telah terdoktrin pikirannya, tidak suka dialog, serba dogmatis, anti kritik dan cenderung merasa paling benar.(Hartono Ahmad Jaiz. 2002).
Di Indonesia khususnya, terdapat bermacam-macam model paham dan aliran yang membawa aroma keagamaan maupun yang berkulit pemikiran. Banyak juga yang berkedok agama dan pemikiran sekaligus. Semua terangkum dalam khasanah keanekaragaman tanah air kita.
Yang menjadi pokok permasalan bagi kita, umat Islam adalah ketika suatu paham dan aliran tersebut membawa nama Islam. Sedangkan yang dibawa adalah ajaran yang menyimpang dan bertabrakan dengan akidah Islam yang benar. Aliran sesat yang berkembang dengan begitu subur di Indonesia tersebut tidak akan dapat ditolerir karena telah mengobrak-abrik pondasi pokok ajaran Islam.
Diperlukan sikap yang kritis dan obyektif dalam memandang suatu aliran atau paham tertentu, terutama yang telah dengan nyata telah sesat dan melenceng, apalagi yang menyesatkan. Karena bukan tidak mungkin ada sebab-sebab atau tujuan-tujuan tertentu dibalik muncul dan eksistensinya suatu paham atau aliran tersebut. Entah itu karena motivasi duniawi yaitu untuk mengejar harta, ambisi kekuasaan, membuat sensasi atau popularitas, kebodohan sang pemimpin atau memang adanya niatan atau propaganda untuk memecah belah Islam.





BAB II
Pembahasan

1. Islam Modernitas dan Konservatisme
A. Modenitas dan Konservatisme; Dua Pilihan

Bagaimana menyikapi dunia modern yang semakin kompleks dan sekuler, itulah yang menjadi tantangan Islam saat ini. Apalagi di Eropa, di mana Islam adalah minoritas yang dianut oleh para pendatang asal budaya non barat yang belum memasuki era sekuler. Di Belanda diskusi antara modernitas dan konservatisme ini dibayangi oleh pembunuhan sineas dan intelektual Theo van Gogh oleh seorang penganut Islam konservatif, gara-gara peandapatnya yang kritis terhadap Islam. Seorang pendukung dan teman dekat Theo van Gogh adalah Ayaan Hirsi Ali, mantan anggota parlemen Belanda dan bersama Theo van Gogh meluncurkan film "Submission" yang mengritik habis-habisan sikap Islam terhadap perempuan. Ayaan Hirsi Ali sendiri kini menyebut dirinya atheis dan terpaksa harus hidup dengan pengawalan ketat karena diancam hidupnya.
Harian Belanda Trouw menurunkan laporan ihwal diskusi Ayaan Hirsi Ali dengan tiga pemuda muslim Belanda asal minoritas pendatang: Faysal, Sam, dan Mehmet. Mereka penganut Islam modern, dan diajak Ayaan untuk berdikusi. Dalam diskusi ini kentara sekali bagaimana sulitnya bagi mereka yang mencoba menginterpretasikan Islam secara moderen untuk tidak terasing dari keluarga dan teman-teman muslim mereka. Pemisahan total antara negara dan agama berarti pemutusan tali ikat dengan tradisi Islam mereka, dan justru menyebabkan mereka akan terkatung-katung dan mudah dipengaruhi ide-ide Islam radikal yang berakar pada memuja muji masa silam. Suatu kontradiksi, namun Ayaan Hirsi Ali menyatakan toh ada jalan ketiga bagi Islam, berdasarkan debat terbuka yang disebut ijtihad, diskusi ihwal interpretasi ajaran Islam yang pada awal sejarah Islam adalah lumrah namun sejak berabad-abad tidak dilakukan lagi.
Trouw menulis, bagi mereka yang menganut modernisme, susah sekali untuk menyampaikan pesan secara umum karena media barat hanya tertarik pada Islam konservatif yang radikal dengan aksi-aksi sensasionalnya dan bukan pada mereka yang mengguting tali hubungan mereka dengan tradisi Islam demi perubahan masa kini. Memang pesan radikalisme konservatif dicampur impian masa silam yang indah-indah sering masuk pers, seakan-akan merekalah yang mewakili dunia Islam. Demikian juga halnya dengan Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.
The Jakarta Post menurunkan artikel dengan opini seorang modernis yang aktif dalam gerakan HAM Aguswandi, yang kami kira adalah golongan orang-orang liberal. Judulnya: tolak konservatisme Islam. Penulis membagi dunia Islam dalam kategori "mereka" yang mendukung syariat penindas perempuan, anti demokratis, dan menentang multikulturalisme dan katergori "kami" yang Islam moderen, sekuler, demokratis dan kosmopolitan. Keunikan Islam Indonesia yang moderat inilah yang perlu dipertahankan. Penulis berpendapat "mereka" yang konservatif sudah menang di Aceh dan bisa kita saksikan dampak penerapan syariat ini: konservatisme dan fanatisme yang menghambat kemajuan.

B. Dibalik Modernitas
Memasuki era globalisasi yang tak mungkin dapat di hindari oleh umat manusia, terlebih oleh umat muslim, membawa dampak yang teramat besar. Berbagai macam bentuk krisis satu per satu terus datang menghantam. Tak pelak lagi datangnya rangkaian krisis itu menyebabkan kegoncangan dan krisis yang lebih besar lagi.
Umat dihadapkan pada krisis pada pemahaman Islam yang semakin memudar. Kerusakan Tauhid menjurus kepada kerusakan moral mengancam kehancuran.Munculah beberapa gerakan yang berjuang melalui cara yang berbeda.
Ada sebagian saudara kita ynag menyuarakan adanya pembaruan dalam Islam, menyesuaikan dengan kebutuhan pada zaman tetapi tetap harus sesuai dengan landasan nilai-nilai dasar ajaran Islam yang benar. Diantarannya yaitu Nahdlatul Ulama’ dan Muhammadiyyah di Indonesia.
Sikap moderat ini memilik fleksibelitas dan sangat adabtable dengan perkembangan zaman. Beberapa ciri dari modernitas dari modernitas yang sebenarnya telah diajarkan dalam Islam, diantaranya anjuran selalu menggunakan akal sehat (logika), mengedepankan etika, mampu beradaptasi dengan perubahan sosial yang ada.
Contoh paling nyata adalah kesuksesan dan kejayaan Islam di Cordova disaat Barat masih terbelakang dan terbelenggu dengan doktrin-doktrin gereja. Melahirkan peradaban tinggi dengan dasar iman dan ilmu pengetahuan beserta Ulama’-Ulama’ besar macam Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd.
Dengan kata lain, Islam bisa berjalan beriringan dengan modernitas kalau umat Islam mampu menjembatani keduanya. Dalam konteks ini, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pemahaman tentang keislaman secara benar menjadi penting.
Tetapi perlu diperhatikan, perubahan yang terlampau berlebihan menimbulkan ancaman yang menyeramkan. Dibalik Modernitas terselip monster berbahaya: Liberalism!

C. Melihat Sisi Konservatisme
Sejalan dengan hancurnya moral umat islam karena pengaruh duniawi, terutama barat, memunculkan gerakan pertahanan dan perlawanan dengan upaya kembali pada ajaran Islam yang benar. Kebanyakan mereka memahami ajaran Islam secara tekstual dan apa adanya. Ada beberapa gerakan di Indonesia diantaranya Jamaah Tabligh dan Salafi.
Dengan asumsi bahwa Islam yang benar adalah Islam yang tetap berpegang teguh pada ajaran murni dari Rasulullah SAW, tanpa adanya perubahan sekecil apapun. Hal ini memungkinkan lahirnya dua aliran yakni Radikalisme dan Fundamentalisme.
Dan hal itulah yang memang gencar diincar oleh barat. Terkadang karena terlalu kaku dalam memehami ajaran Islam dengan tanpa memperhatikan perubahan sosio-cultural, mengakibatkan Islam seringkali diidentikkan dengan terorisme.

Aliran Sempalan dalam Islam
A. Bagaimanakah yang Disebut Sesat itu?
Banyak wacana yang mengemuka di masyarakat tentang siapa yang dapat dikatakan sesat dan bagaimana kesesatannya. Bukankah yang berhak menyesatkan dan membenarkan itu hanya Allah semata? Bukankah kita tidak berhak menuding dan memutuskan seseorang ?
Pendapat yang demikian itu tidak salah, hanya perlu diketahui dan dipahami secara lebih mendalam bahwa bukankah kebenaran (yang haq) dan yang salah (bathil) telah jelas. Kebenaran yang telah nyata itulah tidak akan pernah tertutupi oleh kesesatan. Tidak ada dasar menyatakan seseorang atau paham suatu golongan itu sesat kecuali mereka telah menyimpang dari ajaran ajaran Islam yang benar.
Dalam masalah sesat atau tidaknya suatu paham dapat kita ketahui dari beberapa kriteria sesat yang telah disepakati oleh para ulama’. Melalui Majelis Ulama’ Indonesia telah mengeluarkan fatwa dan kriteria kesesatan suatu pham atau aliran. Diantara kreteria yang dikeluarkan MUI, diantaranya adalah;
1. Mengingkari salah satu dari rukun iman yang 6.
2. Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan sunnah.
3. Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Quran.
4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al-Quran.
5. Melakukan penafsiran Al-Quran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
6. Mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam.
7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.
8. Mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir.
9. Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariah, seperti haji tidak ke baitullah, salat wajib tidak 5 waktu.
10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.
Atas sepuluh kriteria tersebut kita dapat mengetahui apakah suatu golongan itu menyimpang, sesat dan menyesatkan.
B. Dibalik Munculnya Aliran-Aliran Sesat Dalam Islam
Merujuk pada makin maraknya bermunculan aliran-aliran yang menyimpang dan menyimpang dalam islam akhir-akhir ini, perlu kita ketahui akar permasalahannya. Dimulai dari latar belakang, tujuan, faktor-faktor hingga akibat yang ditimbulkannya.
Barang kali ini adalah salah satu fenomena lemahnya dakwah islamiyah di kalangan ummat islam itu sendiri. Ketika Rasulullah Saw wafat, maka dakwah islamiyah sempat terhenti dalam beberapa hari karena kesibukan para shahabat dalam menangani wafatnya Rasullullah saw. Dan apa yang kemudian terjadi….? bermunculanlah sejumlah nabi-nabi baru. Dan Abu Bakar R.a diberikan kefahaman oleh Allah swt bagaimana caranya mengatasi fitnah-fitnah tersebut, yaitu hidupkan kembali dakwah islamiyah. Maka dengan hidupnya kembali dakwah islamiyah akhirnya Allah swt selesaikan fitnah-fitnah tersebut.
Di zaman ini juga berlaku hal yang sama, muncullah berbagai penyimpangan pemahaman terhadap Islam, tidak lepas dari lemahnya dakwah islamiyah. Ummat islam hanya disibukkan dengan ibadah, sementara yang berdakwahpun banyak yang tidak sesuai dengan dakwahnya Nabi dan para shahabat. Tidak ada cara untuk mengembalikan kembali kejayaan ummat ini kecuali dengan cara yang sama sebagaimana ummat ini dibangun pada masa awalnya.
C. Menangkal dan Memberantas Kesesatan
Di Indonesia berkembangnya aliran sesat dapt dengan mudah ditemukan. Mungkin karena faktor historis karena terlalu lama dijajah Belanda mengakibatkan kita dilanda kebodohan. Yang jelas hal tersebut membuat kita banyak tidak mau menggunakan akal sehatnya, dan dalam menghadapi berbagai masalah lebih menyukai jalan pintas.
Ketika ada orang yang membawa ajaran baru yang belum dapat dipastikan kebenarannya tetapi menyuguhkan berbagai kemudahan dalam menjalankan ibadah, mereka mau menelannya mentah-mentah.
Tetapi munculnya aliran dan paham sesat tersebut dapat kita tangkal agar tidak muncul aliran baru dan dapat kita berantas agar mereka mau kembali ke jalan yang benar, mau bertaubat dan mengakui semua kesesatan yang mereka lakukan.
Diantara beberapa cara dalam menangkal lahirnya aliran sesat tersebut adalah:
Mempelajari Ilmu agama sebagai dasar dan pedoman kehidupan dengan ajaran yang benar.
Membekali akal dengan Ilmu yang benar-benar jelas sumbernya.
Berijtihad denagn dalil yang kuat
Peran semua elemen umat islam dalam menjaga ajaran yang shahihah

D. Beberapa Aliran Sesat dalam Islam
Seperti yang telah kita ketahui bahwasannya kesesatan dan penyimpangan dalam ajaran Islam telah begitu merisaukan. Karena mereka muncul membawa ajaran baru yang menyalahi dan bertentangan dengan Islam. Dengan begitu mudahnya mengkalim bahwa ia adalah seorang nabi, al-Masih, al-Mahdi dan sebagainya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kemunculan mereka telah mencoreng dan telah mengobrak abrik tatanan ajaran Islam yang Shahihah. Entah dalam bentuk apa saja dan dalam model bagaimanapun, kesesatan adalah kesesatan. Berikut adalah uraian tentang beberapa aliran nyeleneh, menyimpang, sesat dan menyesatkan.
Lia Aminuddin; agama Salamullah
Lia Aminuddin atau yang populer disebut Lia Edden seorang wanita yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang nabi dan rasul serta Imam Mahdi sekaligus penjelmaan dari malaikat jibril di dunia. Wanita tanpa dasar pengetahuan agama yang kuat menyatakan bahwa ia telah mendapat wahyu dan mendapatkan mu’jizat.
Ajarannya adalah dengan mendirikan agama baru yang dinamakan Salamullah yaitu agama parenialisme yang menghimpun seluruh agama di dunia. Abdul Rahman yaitu orang kepercayaannya dianggap sebagai Imam besar Salamullah serta Ahmad Mukti, puteranya adalah Nabi Isa.
Yang lebih ekstrim lagi, jika seseorang yang telah beriman kepadanya mencukur seluruh rambut yang ada di badan, lalu membakarnya, maka itu adalah suatu bentuk ibadah yang diperintahkan oleh ”Jibril” melalui Lia Eden. Dan barang siapa yang telah melakukannya sama seperti bayi yang baru lahir, bersih dan suci dari dosa.
Ajaran-ajaran yang dibawa oleh Lia Eden tentu saja sangat aneh dan jelas telah sangat menyimpang dari ajaran Islam. Ajarannya tersebut telah menimbulkan keresahan pada masyarakat, khususnya umat Islam.
Tetapi walaupun telah jelas kesesatannya, namun ternyata masih banyak umat islam yang lebih bodoh dainya. Mereka beriman dan mempercayai semua yang diajarkan dalam agama Salamullah ini. Pengajian-pengajian yang sering dilaksanakan di rumah Lia Eden diikuti oleh banyak orang. Semakin hari semakin banyak.
Sehingga pada hari selasa, 4 November 1997, Lia Eden dimintai keterangan oleh Sekretaris Komisi Fatwa MUI. Dalam penjelasannya, Lia mengakui bahwa dalam dirinya bersemayam Ruh al-Kudus, malaikat Jibril. Lia mengakui bahwa ajarannya adalah haq (benar) dan semuanya datang dari malaikat Jibril.
Pada sidang MUI tanggal 11 November dan 3 Desember 1997 membahas masalah ”kemungkinan manusia pada saat ini (setelah wafatnya Rasulullah SAW) didampingi dan dapat berkomunikasi serta mendapatkan ajaran dari Malaikat Jibril.”
Tidak memerlukan waktu yang lama hasilnya pada tanggal 22 Desember 1997, MUI menyatakan dengan tegas bahwa ajaran Lia Eden dengan Salamullahnya adalah ajaran sesat dan menyimpang dari akidah.
Al-Qiyadah Al-Islamiyyah
Satu lagi geger tentang pemahaman Islam yang baru adalah seputar aliran Al Qiyadah Al Islamiyah. Pendiri aliran itu, Ahmad Moshaddeq, seorang pensiunan PNS PemProv.DKI di bidang Olahraga, sejak 23 Juli 2006 setelah bertapa selama 40 hari 40 malam di gunung bunder, Bogor, mengaku dirinya mendapat wahyu dari Allah mengaku sebagai Rasul menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW serta Al-Masih Al-Maw’ud.
Islam sudah sempurna, dan yang menyatakan sempurnyanya islam adalah Allah Swt sendiri. Dan Rasulullah Saw. telah mencontohkan dengan lengkap bagaimana memahami dan mengamalkan sempurnanya Islam. Maka kalau sekarang ada yang berusaha untuk menyatakan menyempurnakan ajarannya Rasulullah SAW., ini njelas suatu kesesatan Apalagi wangsit yang didapat untuk menyempurnakan ajarannya Rasulullah saw ini didapat dengan cara bertapa di sebuah Villa.
Al-Qiyadah Al-Islamiyyah sebagai sebuah gerakan dengan pemahaman keagamaan yang sesat, telah menerbitkan sebuah tulisan dengan judul “Tafsir wa Ta’wil”. Tulisan setebal 97 hal + vi disertai dengan satu halaman berisi ikrar yang menjadi pegangan jama’ah Al-Qiyadah Al-Islamiyyah.
Sebagai gerakan keagamaan yang menganut keyakinan datangnya seorang Rasul Allah yang bernama Al-Masih Al-Maw’ud pada masa sekarang ini, mereka melakukan berbagai bentuk penafsiran terhadap Al-Qur’an dengan tanpa kaidah-kaidah penafsiran yang dibenarkan berdasarkan syari’at, ayat-ayat Al-Qur’an dipelintir sedemikian rupa agar bisa digunakan sebagai dalil bagi pemahaman-pemahamannya yang sesat. Seperti tafsir ayat berikut ini:
!$oYøŠym÷rr'sù Ïmø‹s9Î) Èbr& ÆìoYô¹$# y7ù=àÿø9$# $oYÏ^ãŠôãr'Î/ $oYÍŠômur ÇËÐÈ
Lalu kami wahyukan kepadanya: "Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami....” (al-Mu’minun [23] : 27)
Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud bahtera itu adalah amsal dari al-qiyadah yaitu sarana organisasi dakwah yang dikendalikan oleh Nabi Nuh sebagai nahkoda.Ahli Nuh adalah orang yang beriman, binatang ternak adalah umat manusia, serta lautan adalah bangsa Nabi Nuh yang musyrik. (lihat Tafsir wa Takwil hal. 43)
Demikianlah upaya mereka mempermainkan Al-Qur’an guna kepentingan gerakan sesatnya. Sungguh, seandainya Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah -shallallahu ‘alihi wasallam- boleh ditafsirkan secara bebas oleh setiap orang, tanpa mengindahkan kaidah-kaida penafsiran sebagaiman dipahami slaful ummah, maka akan jadi apa islam yang mulia itu ditengah pemeluknya ? Al-Qiyadah Al-Islamiyyah hanya sebuah sample dari sekian banyak aliran/paham yang melecehkan Al-Qur’an dengan cara melakukan interpretasi atau tafsir yang tidak menggunakan ketentuan yang selaras dengan pemahaman yang benar.
Buku Tafsir wa Ta’wil ini berusaha menyeret pembaca kepada pola pikir sesat melalui penafsiran ayat-ayat mutasyabihat menurut versi Al-Qiyadah Al-Islamiyyah sebagaimana diungkapkan pada hal. iii poin 4 : “Kegagalan orang-orang memahami Al-Qur’an adalah mengabaikan gaya bahasa Al-Qur’an yang menggunakan gaya bahasa alegoris. Bahasa simbol untuk menjelaskan suatu fenomena yang abstrak.”
Al Qiyadah Al Islamiyah dianggap menyimpang karena menganggap Nabi Muhammad SAW bukan sebagai nabi terakhir. Aliran ini juga tak mewajibkan umatnya menjalankan salat lima waktu, berpuasa, maupun ibadah haji lantaran dianggap belum turun perintah Allah untuk menjalankan itu. Mereka juga beranggapan saat ini baru memasuki periode Mekah dengan ajaran pokok menegakan aqidah Islamiyah.
Dan pada tanggal 4 Oktober 2007, MUI mengeluarkan Fatwa sesat dan menyesatkan bagi al-Qiyadah al-Islamiyyah.
Ahmadiyyah
Ahmadiyyah didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di Qadian(dulu India), satu kota di Pakistan. Mirza lahir 15 Februari 1835 dan meninggal 26 Mei 1906 di India.
Ahmadiyyah masuk ke Indonesia tahun 1935, dan kini telah memiliki lebih dari 200 cabang di seluruh Indonesia. Berpusat di Parung, Bogor, di sebuah gedung mewah, diatas tanah seluas 15 Ha.
Ahmadiyyah telah di larang dan dinyatakan sesat secara lokal dan Internasional, namun anehnya belum dalam lingkup nasional. LPPI dan MUI serta ormas-ormas Islam tingkat pusat telah berulang kali mengirim surat kepada pemerintah pusat dan Kejaksaan Agung, tapi belum membuahkan hasil. Namun pada akhirnya pengesaah tentang status sesat Ahmadiyyah akan segera dikeluarkan.
Ajaran-ajaran pokok Ahmadiyyah antara lain Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang Nabi dan Rasul utusan Tuhan, meyakini bahwa kitab Tadzkirah sama sucinya dengan Al-Qur’an bahkan lebih besar, wahyu akan tetap turun hingga hari kiamat begitu juga nabi dan Rasul, Kota suci bukan Makkah dan Madinah, melainkan Qadian dan Rabwah, mereka memiliki Syurga di qadian dan rabwah yang sertifikat kaplingnya dijual kepada jamaah denngan harga yang sangat mahal, wanuta ahmadiyyah haram nikah dengan laki-laki selain ahmadiyyah tetapi laki-laki ahmadiyyah boleh kawin dengan selain ahmadiyyah, tidak boleh bermakmum dengan selain imam ahmadiyyah, serta mereka memiliki kalender sendiri dengan nama bulan; 1. Suluh, 2. Tabligh, 3. Aman, 4. Syahadah,. 5. Hirah, 6. Ihsan, 7. Wafa, 8. Zuhur, 9. Tabuk, 10. Ikha, 11. Nubuwah, 12. Fatah. Sedangkan nama tahunnya adalah Hijri Syamsi (HS)
Walaupun di Pakistan sendiri Ahmadiyyah telah dinyatakan bukan dari Islam, diperkuat dengan Rabithah Alam Islami (Liga Dunia Islam) di Makkah, tapi tetap saja keberadaannya dilindungi undang-undang yang berlaku di Indonesia tentang kebebasaan memeluki agama dan kepercayaan. Apalagi bagi orang-orang yang mengagungkan HAM, melarang ataupun membubarkan ahmadiyyah adalah pelanggaran. Ini sungguh memilukan.
Masih banyak aliran ataupun paham yang berkembang mengatas namakan Islam atau pembaruan yang ada di Indonesia maupun di belahan dunia lainnya. Yang jelas, kesesatan adalah kesesatan. Ijtihad boleh dan dianjurkan oleh agama, tapi jika pemikiran yang telah merubah pokok-pokok dasar agama, maka hal ini tidak dapat dibiarkan.

















BAB III
Kesimpulan
Dari uraian singkat di atas dapat kita simpulkan bahwa :
Konservatisme maupun modernitas dalam Islam dapat dibenarkan dengan catatan tetap berada pada ajaran Islam yang benar.
Aliran yang sesat adalah aliran yang telah merubah pokok-pokok dasar ajaran Islam
Munculnya ajaran yang sesat karena kedangkalan Ilmu dari seseorang.












Daftar Pustaka

Madjid, Nur Cholis. Islam Doktrin dan Peradaban. Paramadina. Jakarta. 2005
Jaiz, Ahmad Hartono. Aliran dan Paham Sesat di Indonesia. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2002
Calil, Munawwar. KH. Kembali kepada AL-Qur’an dan As-Sunnah. Bulan Bintang. Jakarta. 1989
Turner, Bryan S..Runtuhnya Universalitas Sosiologi Barat, Bongkar Wacana atas Islam vis a vis Barat, Orientalisme, Postmodernisme, dan Globalisme. Ar-Ruzz Press. Yogyakarta.2002
Piper, Michel Colin, The High Priests of War . American Free Press, Woshington DC.2004
Husaini, Adian Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal. Gema Insani, Jakarta. 2005












0 komentar: